ROMBAK IPDN

Posted in Uncategorized on November 19, 2009 by susmiatunhayati

sajak

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2009 by susmiatunhayati

Oleh: Susmiatun hayati

Dia yang sempurna

Aku tahu…

Engkau terlalu berharga tuk ku miliki

Tapi…

Jiwa yang bodoh ini telah terlanjur mencintai

Hingga akhirnya aku tak kuasa untuk mengingkari..

Meski aku sadar…

Aku tercipta tanpa kesempurnaan

Semoga kelak kau lengkapi aku

Dengan kebahagiaan…

Perkembangan Teknologi Televisi di Dunia

Posted in Uncategorized on Januari 6, 2009 by susmiatunhayati

Oleh : Dadan Rusmawan

Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia sendiri ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

Televisi analog
mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog.

Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog adalah NTSC (National Television System(s)) Committee, badan industri pembuat standar yang menciptakannya. Sistem ini sebagian besar diteraapkan di Amerika Serikat (AS) dan beberapa bagian Asia Timur, seperti: China/Tiongkok, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia.

Sementara, sistem PAL (Phase-Alternating Line, phase alternation by line atau untuk phase alternation line). Dalam bahasa Indonesia: garis alternasi fase), adalah sebuah encoding berwarna digunakan dalam sistem televisi broadcast, digunakan di seluruh dunia. PAL dikembangkan di Jerman oleh Walter Bruch, yang bekerja di Telefunken, dan pertama kali diperkenalkan pada 1967.

Televisi digital
(bahasa Inggris: Digital Television, DTV) adalah jenis TV yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi. Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. Ia memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan di Indonesia.

Televisi kabel
adalah sistem penyiaran acara televisi lewat frekuensi radio melalui serat optik atau kabel coaxial dan bukan lewat udara seperti siaran televisi biasa yang harus ditangkap antena. Selain acara televisi, acara radio FM, internet, dan telephon juga dapat disampaikan lewat kabel.

Sistem ini banyak dijumpai di Amerika Utara, Eropa, Australia, Asia Timur, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Televisi kabel kurang berhasil di Afrika karena kepadatan penduduk yang rendah di berbagai daerah. Seperti halnya radio, frekuensi yang berbeda digunakan untuk menyebarkan banyak saluran lewat satu kabel. Sebuah kotak penerima digunakan untuk memilih satu saluran televisi. Sistem televisi kabel modern sekarang menggunakan teknologi digital untuk menyiarkan lebih banyak saluran televisi daripada sistem analog.

Televisi satelit
adalah televisi yang dipancarkan dengan cara yang mirip seperti komunikasi satelit, serta bisa disamakan dengan televisi lokal dan televisi kabel. Di banyak tempat di bumi ini, layanan televisi satelit menambah sinyal lokal yang kuno, menghasilkan jangkauan saluran dan layanan yang lebih luas, termasuk untuk layanan berbayar.

Sinyal televisi satelit pertama disiarkan dari benua Eropa ke satelit Telstar di atas Amerika Utara pada tahun 1962. Satelit komunikasi geosynchronous pertama, Syncom 2 diluncurkan pada tahun 1963. Komunikasi satelit komersial pertama di dunia, disebut Intelsat_I (disebut juga Early Bird), diluncurkan ke orbit pada tanggal 6 April 1965. Satelit jaringan televisi nasional pertama, Orbita, dibuat di Uni Soviet pada tahun 1967. Satelit domestik Amerika Utara pertama yang memuat siaran televisi adalah geostasiun Anik 1 milik Kanada, yang diluncurkan pada tahun 1872.id:Satellite television.

http://www.cybermq.com/index.php?intermezzo/detail/1/10/intermezzo-10.html

Cetak Kirim Kepada Teman

Kasihku untuk ibu

Posted in Uncategorized on Desember 28, 2008 by susmiatunhayati

Hidup dan mati seorang ibu tertaruh saat proses kelahiran buah hatinya.segala pegorbanannya tak terelakkan dan merupakan suatu hal yang nyata dalam memperjuangkan kehidupan baru bagi anak yang kelak diharapkan semua kaum ibu agar dapat diajadikan kebanggaan dikemudian hari. maka dari itu tak kan ada kata tidak pula seharusnya, dari seorang anak untuk memenuhi permintaan ibunya. tidak ada seorang anak yang menginginkan atau membiarkan orang yang dicintainya menderita. membahagiakannya jadi suatu kebanggaan yang tiada duanya,oleh karena itu kelak,jika aku mampu tuk membahagiakannya, aku akan membahagiakannya.

kemarahan seorang ibu memang kadang menyakitkan,tapi tak lantas kita membalasnya dengan kebencian.karena pada dasarnya seorang ibu tak pernah mau menyakiti perasaan anknya.aku sadar,tanpa nya aku bukanlah siapa- siapa. banyak hal yang ku ingat darinya. kemarahannya, nasihatnya,termasuk doanya yang amat mulia bagi semua anak-anaknya.sakit bila mendengar kemarahannya,sejuk bila mendengarkan nasihatnya dan penuh harap ketika aku mendengarnya berdoa. percayalah mah!, aku sayang mamah.meski aku tau,kau ragu pada apa yang telah aku lakukan untukmu…semestinya tak ada yang diragukan,karena mamah adalah ibu sekaligus bapak untukku.jadi tak ada yang kau hawatirkan,aku benar-benar tulus menyayangimu…I LOVE YOU MOM!!!…. Semoga aku dapat membahagiakanmu.Amien….

klasifikasi hp

Posted in Uncategorized on Desember 28, 2008 by susmiatunhayati

Konvergensi Media Teknologi

Monday, December 22nd, 2008

Session I—Peluang dan Tantangan Bisnis New MediaPenanggap Session 1:Nukman Luthfie, CEO Virtual Consulting

”Pers Indonesia Menyongsong Era New Media”

MELUASNYA pemakaian teknologi digital sebagai pengantar informasi telah membuka jalan bagi Indonesia memasuki era New Media. Sejumlah grup industri media besar nasional secara strategis telah menyiapkan langkah konvergensi isi melalui dunia digital. Internet menjadi teknologi konvergensi yang menyatukan berbagai platform media dalam satu bentuk baru media.Ada dua karakter ” baru” dari media yang bertumbuh lewat internet itu. Pertama, kecenderungannya menyajikan peristiwa secara cepat dan dihadirkan lewat beragam platform sekaligus, dari video, suara dan teks. Kedua, melalui teknologi digital, pesan atau informasi menyebar secara horisontal, dari satu pengguna ke satu komunitas, atau sebaliknya. Misalnya, kemunculan YouTube, aplikasi jejaring sosial berbasis video, membuat berbagai peristiwa penting dikirim oleh individu dan dengan sekejap informasi bergambar itu bisa diakses secara global. Itu sebabnya, mengingat aspek strategis dari multimedia, YouTube dibeli oleh Google seharga US$ 1,6 miliar, dua tahun silam. Pendek kata, internet telah mengubah cara produksi dan distribusi informasi. Dari aspek indutri media, ini termasuk lompatan penting setelah Guttenberg menemukan mesin cetak lima abad silam. Di Indonesia, ada 33 juta pelanggan internet pada 2008, yang angkanya diperkirakan terus menanjak tajam tiap tahun.Seiring bertumbuhnya infrastruktur teknologi informasi ini, sejumlah industri penyedia jasa telekomunikasi selular bahkan telah melebarkan urusannya ke bidang isi. Mereka kini tak hanya menyiapkan layanan jaringan, tetapi juga penyedia isi atau ”content provider”.

Artinya, kesiapan infrastruktur bagi jalan dan berkembangnya media informasi digital kini lebih matang dibandingkan lima tahun silam. Internet telah menghimpun jutaan situs informasi dalam satu jaringan global. Internet juga mempermudah setiap orang mencari dan mendapatkan informasi dalam beragam bentuk, dari gambar, teks dan juga suara.

Sejumlah media tradisional seperti cetak dan siaran berbasis elektronik pun terpaksa melakukan perubahan besar, dengan menghadirkan versi online di internet, dan mempertajam persaingan mereka di ranah media digital. Di Indonesia, kita menyaksikan munculnya news site sekaligus megaportal seperti Kompas.Com, yang menyatukan beragam platform media dari Grup Kompas Gramedia. Kehadiran Kompas.Com meramaikan bursa media digital yang sejak lama dikuasai oleh Detik.Com.

Dari dunia siaran elektronik, Grup MNC juga menghadirkan konvergensi media lewat Okezone.Com, yang menyatukan ragam media elektronik dan cetak di bawah Grup itu. Begitu juga dengan Visi Media Asia (VIVA) yang membawahi ANTV dan TVOne memutuskan membentuk lini konvergensi melalui VivaNews.Com. Sementara Jawa Pos Grup dikabarkan segera menyatukan aneka platform media cetak daerah dan televisi lokal mereka dalam satu media online. Konvergensi tampaknya telah menjadi strategi baru bagi industri media nasional.


Maka, menarik untuk melihat bagaimana para pelaku bisnis media membaca kecenderungan konvergensi ini. Bagaimana sebetulnya prospek New Media ini di Indonesia? Lalu, bagaimana internet membentuk jurnalisme baru dan mempengaruhi bentuk media di dalam kehidupan berbangsa?Untuk menjawab dua pertanyaan besar itu, seminar kali ini akan mengambil dua topik besar, 1) Peluang dan tantangan bisnis New Media, dan 2) Teknologi informasi sebagai alat demokratisasi.

1.”Menjembatani Jurang Digital”

Topik ini membicarakan persiapan pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi. Dalam hal ini memaparkan upaya membangun ”internet masukdesa” lewat pembangunan community access point (CAP), dan membuka hot pot nasional, dan program untuk mengatasi banyak warga masyarakat masih mengalami ”jurang digital”. Perlu dijelaskan Roadmap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) nasional, dan infrastruktur apa yang akan dipersiapkan sehingga bisa menopang munculnya New Media dalam Pers Indonesia.

Pembicara:

Mohammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia

2.”Konvergensi Media: Akhir Media Tradisional?”
Dalam topik ini pembicara akan mengungkapkan munculnya konvergensi berbagai platform media dalam industri media di tingkat global saat ini. Akan dibahas kondisi apa saja yang membuat media harus melakukan konvergensi, model-model konvergensi yang sedang berkembang saat, dan apa dampaknya bagi perkembangan jurnalisme masa depan. Lalu, dijelaskan juga seputar prospek jurnalisme multimedia di Indonesia.
Pembicara:

Hary Tanoesoedibjo, CEO Media Nusantara Citra (MNC) Group

3. ”Dari Media Tradisional ke Multimedia: Pengalaman Kompas.Com”
Topik ini mengungkapkan bagaimana Kompas sebagai korporasi media terbesar memutuskan konvergensi di dalam grup itu, alasan dan pertimbangan yang melatarbelakangi kemunculan megaportal Kompas.Com. Dipaparkan kekuatan dari konvergensi media dan juga sejumlah kelemahan yang harus diantisipasi. Bagaimana Kompas menerapkan standar jurnalisme di tengah pencitraan dominan bahwa media online kurang terpercaya. Bagaimana Kompas.Com melakukan pengembangan dari media berbasis cetak menuju ke era digital multimedia.

Pembicara:

Agung Adiprasetyo, CEO Kelompok Kompas Gramedia (KKG)

4.“Mencari Model Bisnis New Media”Pembicara dalam topik ini akan mengulas konvergensi media dalam perspektif strategi bisnis. Dipaparkan bagaimana menyiasati perkembangan infrastruktur teknologi informasi sebagai “carrier” dan aspek media yang menguasai struktur “content”. Dijelaskan beragam model bisnis yang berkembang baik di tingkat global, dan aneka model bisnis multimedia yang mungkin muncul di tingkat nasional. Dijelaskan juga bagaimana konvergensi media mampu mendorong pasar lebih luas, serta berbagai tantangan bisnisnya ke depan.

Pembicara:
Anindya N. Bakrie, CEO Visi Media Asia (VIVA) Group

(www.ajiindonesia.org)

Session II—Teknologi Informasi sebagai Alat Demokratisasi

1. New Media dan Infrastruktur Jaringan Sosial Baru

Topik ini akan mengulas kekuatan penyedia layanan seperti Yahoo yang kian bergerak ke arah multimedia. Dipaparkan bagaimana pertumbuhan komunitas yang difasilitasi oleh Yahoo menjadi satu kekuatan penting dalam demokratisasi media. Dijelaskan juga dalam era Web 2.0, posisi publik terhadap media, dan bagaimana strategi Yahoo dalam mendorong terbentuknya Netizen atau internet citizen. Dipaparkan juga kekuatan jaringan global media internet serta kecenderungan bentuk media di masa depan.

Pembicara:
Turochas Fuad, Head of Mobile Yahoo Asia Tenggara

2. “New Media dan Blogger: Menakar Kekuatan Komunitas

Topik ini akan menggali kekuatan New Media yang bersifat interaktif dari sudut pandang para blogger. Bagaimana relasi New Media dan jejaring sosial yang dianyam para blogger bisa memunculkan suatu kekuatan baru. Dipaparkan juga bagaimana demokratisasi dalam “reporting” terjadi, dan apa peran jurnalis profesional dalam dunia jejaring sosial internet ini. Pergeseran yang terjadi dalam produksi isi informasi, dimana kepemilikan media tak lagi bisa mendikte isi bagi khalayak.

Pembicara:
Enda Nasution, mantan Presiden Blogger Indonesia.


3. New Media Sebagai Gerakan Sosial Baru?Topik ini membahas bagaimana media berbasis teknologi digital telah mengubah kehidupan politik. Jaringan internet berpengaruh besar bagi akses publik atas dokumen pemerintah, bahkan pada taktik dan isi kampanye politik. Jaringan sosial internet bersifat horisontal dari New Media berpotensi besar menjadi alat mobilisasi politik bagi aneka kelompok kepentingan, baik bagi aktivis, komunitas bisnis, ormas, parpol dan pejabat pemerintah. Dipaparkan bagaimana revolusi media digital itu bertumbuh di tingkat global, dan perkembangannya di Indonesia. Potensi apa saja yang dimiliki New Media sehingga mampu memberikan dampak sosial dan politik bagi perubahan di Indonesia?Pembicara:

Aditya Chandra Wardana, Phd, Direktur PT IndoPacific Edelman

Klasifikasi Handphone 2007-2008

Monday, December 22nd, 2008

Klasifikasi Handphone Tahun 2007-2008

A. Dari Segi teknologi Yang Digunakan.

1. Low End : Handphone yang memiliki fitur sederhana.

Contoh :

    • Nokia : 1200, 1208, 1650, 1209.

    • Sony Ericsson : J121i, K200i, J120i, Z320i, J110i.

    • Motorola : W213, W205, W231, W181, W175.

    • LG : KP100, KG 270.

2. Middle End : Untuk telepon seluler dengan desain dan fitur yang di sempurnakan.

Contoh :

    • Nokia : 2600 Classic, 2680 Slide, 5000, 3110 Classic, 3120 Classic.

    • Sony Ericsson : J132i, R300i, T303i, T250i, Z250i, K220i, R306i, K330i, T280i.

    • Samsung : C160, M150, C450, M300, M120.

    • LG : KP100, KG270, KP105, KG195, KG288, KP110, KU250.

3. High End : Telepon seluler yang memiliki teknologi maju.

Contoh :

    • Nokia : 7310 Supernova, 5310, 6120 Classic, 5700, 5320 XpressMusic, 7210 supernova, E51, 7900 Prism, E65, 5320 XpressMusic, N76, N77, 5610.

    • Sony Ericsson : S500i, W660i, K660i, W610i, W302, T650i, C702i, W910i, F305, K770i, Z770i.

    • Samsung : F250, D900i, E950i, D780, L700, J200, F330, U800Soul b, i450, L170, G600, S7330.

B. Dari Segi Segmentasi Pasarnya.

1. Sosial Central : Komunitas yang suka berkomunikasi dengan sesama keluarga,teman dan kolega.

Contoh :

    • Nokia : 1680 Classic, 1208, 1200, 5310, 5700, E51, 5000, 3110 Classic.

    • Sony Ericsson : K530i, Z555i, W660i, Z250i.

    • Samsung : J200, Z170, M150, C160.

2. Cool Dinamic : Untuk komunitas yang menyukai dunia sport.

Contoh :

  • Siemens M35i

  • Siemens E55

  • Beyond B530

3. Perfomence : Untuk pembisnis dan kalangan prpfesional.

Contoh :

  • BlackBerry 8820

  • BlackBerry Pearl 8120

  • HTC Shift

  • MWg Atom V

  • Nokia E71

  • Nokia N96

http://ranggaekaputra.blog.friendster.com/2008/12/

Budaya dan Konsep Teknologi

Posted in Uncategorized on November 3, 2008 by susmiatunhayati

Melihat pengembangan IT di Indonesia, ada hal penting yang agaknya luput dari perhatian kita. Mencontoh dari India dan China, bagaiamana kedua negara ini mampu menjadi pemain utama sebagai negara produsen IT, seharusnya kita melihatnya berpuluh tahun yang lalu. Di saat mereka memulai langkah membangun teknologi informasi. Bukan dengan kemajuan yang kita lihat saat ini, karena apa yang kita lihat saat ini adalah hasil akumulasi dari usaha-usaha mereka di tahun-tahun sebelumnya. Ada tahapan-tahapan yang dilalui hingga kemajuan saat ini mereka raih.

Unsur yang paling utama harus dibangun adalah basis pengetahuan yang kuat dan kultur baca tulis. Kita bisa mencontohnya dari Korea. Basis pengetahuan yang kuat memungkinkan Korea untuk melakukan loncatan besar dalam sebuah creative innovation, hingga akhirnya mampu melakukan inovasi sendiri dan menjadi negara maju saat ini. Ketika perang Vietnam usai dan Presiden Amerika menawarkan bantuan untuk Korea atas jasanya selama perang tersebut, tak banyak yang diminta Presiden Park saat itu. Amerika akhirnya membangunkan untuk Korea laboratorium Iptek besar yang kemudian bernama KIST (Korean Institute of Science and Technology). KIST inilah yang memiliki peran besar dalam membangun basis pengetahuan yang kuat di Korea. Begitu pula yang dialkukan India dan China, khususnya dalam pengembangan IT.

Dalam teknologi informasi, basis pengetahuan yang utama adalah penguasaan ilmu-ilmu murni seperti matematika dan ilmu alam. Tentunya hal ini harus ditunjang dengan kebijakan pendidikan dan akses untuk mendapatkan buku secara murah. Cara inilah yang ditempuh India di tahun 1960-an, lebih dari 40 tahun yang lalu. Begitu pula China.

Basis pengetahuan yang kuat akan sulit diwujudkan tanpa adanya kultur baca tulis yang kuat pula. Hampir semua informasi dan ilmu pengetahuan tersedia dalam bentuk tulisan (buku, majalah, jurnal, koran, brosur, pamflet, dsb). Informasi dalam bentuk tulisan memiliki banyak keunggulan dibanding media-media dalam bentuk lain. Tapi jika kita bicara mengenai budaya baca tulis, maka instrumen utama kita adalah buku. Walaupun kini telah tersedia internet yang membantu kita menyediakan berbagai informasi, tapi buku tetap menjadi instumen utama. Internet memiliki beberapa kelemahan dan efek negatif yang justru menisbikan usaha ini.

Betapa sedihnya, di saat negara-negara lain sedang berpikir bagaimana mengembangkan teknik membaca cepat dan efektif, saat ini kita masih disibukkan dengan agenda-agenda memberantas buta huruf. Tapi ini tidak menjadi masalah jika memang hal ini didasari keinginan yang kuat untuk memajukan pendidikan.

Maka dari itu, jika kita berbicara pengembangan IT secara jangka panjang agar mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, upaya membangun budaya baca tulis ini harus jadi perhatian kita yang utama. Realisasinya akan sangat bergantung pada political will pemerintah untuk memajukan pendidikan. Kebijakan yang paling penting dalam mendorong budaya baca tulis ini adalah ketersediaan pusat-pusat informasi seperti perpustakaan-perpustakaan dan buku yang harganya terjangkau. Perpustakaan sebagai salah satu faktor penting di dalam pengembangan TI seringkali diabaikan dan tidak dianggap sebagai unsur yang penting. Padahal perpustakaan lah, yang dari awal telah mengelola informasi.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk membangun kultur baca tulis misalnya menggiatkan upaya-upaya penerjemahan buku-buku dari luar negeri atau memberikan insentif untuk para penulis buku dalam negeri, khususnya di kalangan akademisi. Dalam hal ini, kita juga bisa memanfaatkan internet sebagai saluran distribusi informasi dan sumber-sumber bacaan, bahkan bisa jadi sangat efektif. Dan kuncinya sebenarnya ada pada anggaran pemerintah untuk pendidikan yang mencukupi. Kenapa tidak, anggaran IT digunakan untuk investasi jangka panjang di bidang pendidikan?

Dengan terbangunnya kultur baca tulis di masyarakat umum, barulah implementasi teknologi informasi akan berperan lebih optimal dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pada fase ini, barulah tercipta Komunikasi-Komunitas-Knowledge dan Kolaborasi. Kolaborasi adalah manfaat utama dari IT khususnya internet. Internet memungkinkan orang berkolaborasi secara murah tanpa dibatasi geografi dan waktu. Untuk memulai kolaborasi ini, biasanya dilakukan pertama kali dengan membangun komunitas online. Melalui komunitas ini, para anggota komunitas dapat saling berkomunikasi dan berbagi ilmu pengetahuan (knowledge).

Sumber : Portal PPSDMS

Link : http://ppsdms.org/teknologi-informasi-dan-budaya-baca-tulis.htm

Sistem Komunikasi Serat Optik

Posted in Uncategorized on November 3, 2008 by susmiatunhayati

Pendahuluan

Perkembangan dan penerapan teknologi telekomunikasi dunia yang berkembang dengan cepat, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan sistem telekomunikasi Indonesia. Beroperasinya satelit telekomunikasi Palapa dan kemudian pemakaian SKSO (Sistem Komunikasi Serat Optik) di Indonesia merupakan bukti bahwa Indonesia juga mengikuti dan mempergunakan teknologi ini di bidang telekomunikasi.

Tidak disangkal lagi bahwa serat optik akan memberikan kemungkinan yang lebih baik bagi jaringan telekomunikasi. Serat optik adalah salah satu media transmisi yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dengan keandalan yang tinggi. Berlainan dengan media transmisi lainnya, maka pada serat optik gelombang pembawanya tidak merupakan gelombang elektromagnet atau listrik, akan tetapi merupakan sinar/cahaya laser.

Sistem telekomunikasi ini sebenarnya sudah diteliti sejak lama, tetapi karena banyaknya kesulitan atau hambatan yang timbul terutama di dalam usaha menghilangkan kotoran dalam pembuatan serat optik. Kotoran di dalam serat optik dapat mengakibatkan rugi-rugi transmisi dan dispersi yang tidak sempurna.

Sebagaimana namanya maka serat optik dibuat dari gelas silika dengan penampang berbentuk lingkaran atau bentuk-bentuk lainnya. Pembuatan serat optik dilakukan dengan cara menarik bahan gelas kental-cair sehingga dapat diperoleh serabut/serat gelas dengan penampang tertentu. Proses ini dikerjakan dalam keadaan bahan gelas yang panas. Yang terpenting dalam pembuatan serat optik adalah menjaga agar perbandingan relatif antara bermacam lapisan tidak berubah sebagai akibat tarikan. Proses pembungkusan seperti pemberian bahan pelindung atau proses pembuatan satu ikat kabel yang terdiri atas beberapa buah hingga ratusan kabel pengerjaannya tidak berbeda dengan pembuatan kabel biasa.

Keunggulan Transmisi Serat Optik

Sistem transmisi serat optik ini dibandingkan dengan teknologi transmisi yang lain mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :

  1. Redaman transmisi yang kecil.
  2. Sistem telekomunikasi serat optik mempunyai redaman transmisi per km relatif kecil dibandingkan dengan transmisi lainnya, seperti kabel coaxial ataupun kabel PCM. Ini berarti serat optik sangat sesuai untuk dipergunakan pada telekomunikasi jarak jauh, sebab hanya membutuhkan repeater yang jumlahnya lebih sedikit.

  3. Bidang frekuensi yang lebar
  4. Secara teoritis serat optik dapat dipergunakan dengan kecepatan yang tinggi, hingga mencapai beberapa Gigabit/detik. Dengan demikian sistem ini dapat dipergunakan untuk membawa sinyal informasi dalam jumlah yang besar hanya dalam satu buah serat optik yang halus.

  5. Ukurannya kecil dan ringan
  6. Dengan demikian sangat memudahkan pengangkutan pemasangan di lokasi. Misalnya dapat dipasang dengan kabel lama, tanpa harus membuat lubang polongan yang baru.

  7. Tidak ada interferensi
  8. Hal ini disebabkan sistem transmisi serat optik mempergunakan sinar/cahaya laser sebagai gelombang pembawanya. Sebagai akibatnya akan bebas dari cakap silang (cross talk) yang sering terjadi pada kabel biasa. Atau dengan perkataan lain kualitas transmisi atau telekomunikasi yang dihasilkan lebih baik dibandingkan transmisi dengan kabel. Dengan tidak terjadinya interferensi akan memungkinkan kabel serat optik dipasang pada jaringan tenaga listrik tegangan tinggi (high voltage) tanpa khawatir adanya gangguan yang disebabkan oleh tegangan tinggi.

  9. Kelebihan lain, antara lain

Adanya isolasi antara pengirim (transmitter) dan penerimanya (receiver), tidak ada ground loop serta tidak akan terjadi hubungan api pada saat kontak atau terputusnya serat optik. Dengan demikian sangat aman dipasang di tempat-tempat yang mudah terbakar. Seperti pada industri minyak, kimia, dan sebagainya.

Kabel Coaxial Kabel Serat Optik
Delay 0.005 ms/km 0.048 ms/km
Keamanan - aman dari penyadapan
- tidak dapat di jamming
- aman dari penyadapan
- tidak dapat di jamming
Penambahan kanal
Kapasitas kanal
Transmisi TV
Broadcast
Transmisi data
Umur sistem
MTBF
memasang kabel baru
sedang-besar
baik, tidak ekonomis
tidak dapat
baik, tidak praktis
lebih dari 25 tahun
± 10 tahun
memasang kabel baru
sedang-besar sekali
baik dan ekonomis
tidak dapat
baiksekali
lebih dari 25 tahun
± 10 tahun

Prinsip Kerja Transmisi pada Serat Optik

Berlainan dengan telekomunikasi yang mempergunakan gelombang elektromagnet maka pada serat optik gelombang cahayalah yang bertugas membawa sinyal informasi. Pertama-tama microphone merubah sinyal suara menjadi sinyal listrik. Kemudian sinyal listrik ini dibawa oleh gelombang pembawa cahaya melalui serat optik dari pengirim (transmitter) menuju alat penerima (receiver) yang terletak pada ujung lainnya dari serat. Modulasi gelombang cahaya ini dapat dilakukan dengan merubah sinyal listrik termodulasi menjadi gelombang cahaya pada transmitter dan kemudian merubahnya kembali menjadi sinyal listrik pada receiver. Pada receiver sinyal listrik dapat dirubah kembali menjadi gelombang suara.

Tugas untuk merubah sinyal listrik ke gelombang cahaya atau kebalikannya dapat dilakukan oleh komponen elektronik yang dikenal dengan nama komponen optoelectronic pada setiap ujung serat optik.

Dalam perjalanannya dari transmitter menuju ke receiver akan terjadi redaman cahaya di sepanjang kabel serat optik dan konektor-konektornya (sambungan). Karena itu bila jarak ini terlalu jauh akan diperlukan sebuah atau beberapa repeater yang bertugas untuk memperkuat gelombang cahaya yang telah mengalami redaman.

Jenis Serat Optik

Berdasarkan sifat karakteristiknya maka jenis serat optik secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. Multimode
  2. Pada jenis serat optik ini penjalaran cahaya dari satu ujung ke ujung lainnya terjadi dengan melalui beberapa lintasan cahaya, karena itu disebut multimode. Diameter inti (core) sesuai dengan rekomendasi dari CCITT G.651 sebesar 50 m m dan dilapisi oleh jaket selubung (cladding) dengan diameter 125 m m.

    Sedangkan berdasarkan susunan index biasnya serat optik multimode memiliki dua profil yaitu graded index dan step index. Pada serat graded index, serat optik mempunyai index bias cahaya yang merupakan fungsi dari jarak terhadap sumbu/poros serat optik. Dengan demikian cahaya yang menjalar melalui beberapa lintasan pada akhirnya akan sampai pada ujung lainnya pada waktu yang bersamaan. Berlainan dengan graded index, maka pada serat optik step index (mempunyai index bias cahaya sama) sinar yang menjalar pada sumbu akan sampai pada ujung lainnya dahulu (dispersi) Hal ini dapat terjadi karena lintasan yang melalui poros lebih pendek dibandingkan sinar yang mengalami pemantulan pada dinding serat optik. Sebagai hasilnya terjadi pelebaran pulsa atau dengan kata lain mengurangi lebar bidang frekuensi.

    Oleh karena itu secara praktis hanya serat optik graded index sajalah yang dipergunakan sebagai saluran transmisi serat optik multimode.

  3. Single Mode

Serat optik single mode/monomode mempunyai diameter inti (core) yang sangat kecil 3 – 10 m m, sehingga hanya satu berkas cahaya saja yang dapat melaluinya. Oleh karena hanya satu berkas cahaya maka tidak ada pengaruh index bias terhadap perjalanan cahaya atau pengaruh perbedaan waktu sampainya cahaya dari ujung satu sampai ke ujung yang lainnya (tidak terjadi dispersi). Dengan demikian serat optik singlemode sering dipergunakan pada sistem transmisi serat optik jarak jauh atau luar kota (long haul transmission system). Sedangkan graded index dipergunakan untuk jaringan telekomunikasi lokal (local network).

Bit rate
( Mbit/dt )
Jarak repeater
multimode
Jarak repeater
singlemode
140
280
420
565
30
20
15
10
50
35
33
31

Tim Elektron HME-ITB

http://www.elektroindonesia.com/elektro/el0400b.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.