Blog
Sejarah blog
Sejarah Blog
27 Agustus 2007 oleh supono
Apabila kita suka nge-net (main internet), mungkin ga asing dengan kata Blog, ya… Blog adalah kepanjangan dari Weblog. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Jorn Barger tepatnya pada bulan Desember 1998 Dia menggunakan weblog untuk memberikan nama kepada kelompok orang yang mempunyai website pribadi dan selalu meng-update website-nya tersebut, baik itu berita, link ke website lain, curhatan, tutorial dan lainnya. Dan disertai komentar-komentar dari tulisannya tersebut. Pada awalnya blog hanyalah catatan perjalanan seseorang yang di publish di internet (mungkin sekarang juga ga berubah). Dilihat dari tujuannya seseorang membuat blog juga macam-macam, ada yang karena narsisnya, eksistensi, sharing ilmu, ajang diskusi, mencurahkan unek-unek, memajang iklan sampai ke hal-hal di luar jangkauan akal manusia (halah…)
Roger Yim, seorang kolumnis San Francisco Gate pada artikelnya, menuliskan bahwa sebuah Blog adalah persilangan antara diary seseorang dan daftar link di Internet. Sedang Scott Rosenberg dalam kolomnn bahwa Blog berada pada batasan website yang lebih bernyawa daripada sekedar kumpulan link tapi kurang instrospektif dari sekedar sebuah diary yang disimpan di internet.
Kalau kita masih ingat, Mosaic adalah browser pertama sebelum adanya Internet Explorer bahkan sebelum Nestcape. Kemudian pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justins Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground yang mungkin dapat disebut sebagai Blog pertama seperti yang kita kenal sekarang. Banyak sekali layanan penyedia weblog garisan, seperti wordpress.com, blogger.com dimana hampir setiap jam member mereka tambah banyak.
Di Indonesia sendiri, sejarah blog katanya berawal pada tahun 2000, dengan cikal bakalnya sebuah website yang bernama Indigos.Net Website pribadi yang berisi segala sesuatu tentang seseornag yang bernama Tyaz dari mulai biodata, profil teman, portofolio, hingga kumpulan puisi, tetapi Indigos.Net ini dikenal webblog pada tahun 2001 dengan membernya yang lumayan banyak pada saat itu dan contentnya yang inovatif dan kreative.
http://supono.wordpress.com/2007/08/27/sejarah-blog/
PERKEMBANGAN BLOG
Disadari atau tidak, sebenarnya salah satu penyebab ketertinggalan bangsa timur dari bangsa barat adalah salah satu budayanya yang sangat tertutup. Budaya yang mengajarkan untuk membatasi diri dalam segala hal ini nyata-nyata telah membuat batas perkembangan bagi pribadi itu sendiri. Sejarah menunjukkan, pembatasan diri yang dilakukan di masa lampau pun telah banyak menghambat perkembangan sebuah bangsa. Tembok China yang dibangun untuk mengatasi serangan musuh ternyata juga membatasi perkembangan bangsa di dalamnya pada masa lampau. Begitu pula tembok Jerman Barat-Jerman Timur, dan masih banyak lagi simbol ‘batas’ yang pada akhirnya benar-benar telah membatasi sebuah perkembangan.
Namun kita patut bersyukur atas berkembangnya teknologi, terutama teknologi informasi di masa kini, di mana mengijinkan kita untuk terbebas dari ‘batas-batas’ tersebut. Kini budaya yang berkembang adalah sebaliknya, perkembangan teknologi informasi melalui blog telah memberikan berita baik bagi bagi sebuah arti lintas batas. Generasi muda tidak dapat lagi diajarkan untuk bersembunyi di balik ‘tembok’-nya, justru yang harus dilakukan saat ini untuk berkembang adalah sebaliknya, membuka diri dan berbagi informasi dengan dunia secara luas. Dan untuk saat ini blog telah memenuhi semua kebutuhan itu. Siapa pun orangnya kini dapat dengan bebas mengemukakan pendapat dan pemikirannya, berbagi ide dan pengalaman, berbagi minat dan berita, yang kesemuanya itu dilakukan melalui blog.
Bahkan kini blog telah dianggap sebagai sebuah media jurnalistik baru yang independen. Seperti yang dilansir KCM pada 15 Oktober yang lalu, di Amerika hal ini ditandai dengan pemberian kartu pers dari Presiden Amerika Serikat kepada dua orang blogger untuk meliput jalannya pengadilan atas Mantan Kepala Staff Gedung Putih, Lewis ‘Scooter’ Libby. Selain itu masih banyak aktifitas pemberitaan para blogger yang pada kenyataannya terkadang jauh lebih menarik daripada sebuah versi online media cetak profesional sekalipun. Mengapa bisa demikian? Karena dalam sebuah blog, blogger tidak dibatasi ataupun dikekang oleh berbagai macam peraturan dan standart operasional yang kaku. Para blogger bebas menyuarakan apa yang mereka anggap benar atau salah tanpa harus bersandar pada nilai normatif tertentu. Tidak terkecuali mereka juga bebas memberitakan hal-hal yang bersifat ‘out of record’, dan membahasnya dari sudut pandang mereka. Nilai kebebasan dalam saling berbagi pendapat maupun informasi telah menjadikan blog sebagai sebuah budaya baru dalam pemberitaan yang mungkin dapat dirasakan masyarakat sebagai sesuatu yang jauh lebih menarik.
Web 3.0, Sebuah Bukti Inovasi Tiada Henti
Aspek sosial yang dimaksud, terutama adalah aspek interaksi. Bagaimana sebuah web dapat memberikan sebuah interaksi sesuai dengan kebutuhan informasi setiap pemakaianya, merupakan sebuah tantangan utama dikembangkannya versi Web 3.0 ini. Walaupun hanya bersifat virtual 3D, namun ternyata banyak yang mengharapkan perkembangan teknologi web ini dapat memenuhi kebutuhan setiap bidang informasi, bahkan setiap orang yang mengunjunginya.
Jika dianalogikan dalam kehidupan nyata, masyarakat kini ingin diperlakukan seperti seorang pengunjung butik dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Bukan seperti pengunjung supermarket yang dibiarkan mencari dan mendapatkan sendiri barang yang dinginkannya. Pengunjung sebuah web ingin dimengerti kemauannya oleh ‘toko’ penyedia informasi (dalam hal ini website). Inilah yang dimaksud dengan tantangan bagaimana sebuah web dapat mengerti dan membantu pengunjung dalam berinteraksi dengan semua informasi yang ada. Sehingga tak mengherankan jika kemudian ciri dari pengembangan web generasi ketiga ini adalah web yang bersifat ‘nyata’, benar-benar ada interaksi yang terjadi, kemudian dapat memberikan suggestion atau ‘anjuran’ kepada pengunjung dalam mendapatkan informasi yang diharapkannya, dan tentu saja juga tetap bersifat ‘provide’ atau mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan.
Web 3.0 sendiri merupakan sebuah proyek pengembangan semantic web, yaitu sebuah sistem web yang dapat melacak setiap kaitan dari kata-kata yang terangkai, berkaitan dengan arti setiap kata yang dipakai. Tujuannya tentu saja agar web dapat menjadi media umum untuk bertukar informasi melalui dokumen-dokumen yang bahasanya dapat dimengerti oleh sistem, sehingga para pengunjung web dapat dengan mudah mencari data yang tepat atau minimal berkaitan dekat dengan apa yang kita maksud. Web 3.0 sendiri merupakan sebuah realisasi dari pengembangan sistem kecerdasan buatan (artificial intelegence) untuk menciptakan global meta data yang dapat dimengerti oleh sistem, sehingga sistem dapat mengartikan kembali data tersebut kepada pengunjung dengan baik.
Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.
Permasalahan lain yang potensial muncul adalah, sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menarik nafas penjang. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.(dna)
http://www.beritanet.com/Technology/web-30-semantic.html